Background
Oasis Lestari Pontianak

Berita & Informasi

Informasi terbaru seputar kegiatan, acara, layanan, dan artikel dari Oasis Lestari.

Ketika Semangka Dipecahkan: Makna Perpisahan dalam Tradisi Kedukaan Tiong Hoa

Ketika Semangka Dipecahkan: Makna Perpisahan dalam Tradisi Kedukaan Tiong Hoa

Oasis Lestari
• 19 September 2026

Dalam rangkaian kedukaan masyarakat Tionghoa, terdapat sebuah tradisi yang mungkin terlihat sederhana namun sarat makna: membanting semangka hingga pecah. Prosesi ini umumnya dilakukan sesaat sebelum jenazah diberangkatkan menuju tempat pemakaman atau krematorium. Ketika peti jenazah akan diangkat dan perjalanan terakhir dimulai, semangka dipecahkan di depan rumah duka atau area keberangkatan. Dalam sejumlah catatan mengenai adat Tionghoa di Indonesia, tindakan tersebut dimaknai sebagai tanda bahwa kehidupan almarhum di dunia telah selesai.

Pecahnya semangka menjadi simbol sebuah batas—antara kehidupan yang telah dijalani dan perjalanan yang harus dilanjutkan. Buah yang utuh kemudian menjadi pecah menggambarkan berakhirnya kehidupan duniawi sekaligus pelepasan keluarga terhadap orang yang mereka cintai. Dalam beberapa tradisi dan penuturan masyarakat, ritual ini juga dikaitkan dengan harapan agar perjalanan almarhum menuju tempat peristirahatan terakhir berlangsung dengan lancar dan tanpa hambatan. Makna tersebut menunjukkan bagaimana sebuah benda sederhana dapat menjadi simbol penghormatan, perpisahan, dan doa keluarga.

Semangka yang dibanting di tradisi prosesi pemakaman

Ada pula kisah turun-temurun yang menghubungkan tradisi pecah semangka dengan legenda Kaisar Li Shimin dari Dinasti Tang. Dalam cerita yang berkembang di masyarakat, sang kaisar dikisahkan pernah mengalami perjalanan ke alam baka dan kemudian kembali ke dunia. Cerita tersebut kemudian dikaitkan dengan semangka yang dibawa sebagai persembahan ke alam baka. Kisah ini merupakan bagian dari folklor atau penuturan tradisional, sehingga versinya dapat berbeda-beda dan tidak seharusnya dipandang sebagai catatan sejarah yang pasti.

Pada akhirnya, tradisi pecah semangka bukan sekadar tentang sebuah buah yang dihancurkan di depan rumah duka. Ia menjadi salah satu cara keluarga menandai momen perpisahan: bahwa kehidupan seseorang di dunia telah sampai pada akhirnya, sementara keluarga yang ditinggalkan harus melanjutkan perjalanan mereka dengan mengenang kasih dan kebaikan almarhum. Tata cara dan maknanya pun dapat berbeda menurut daerah, keluarga, serta latar kepercayaan masing-masing. Di balik suara semangka yang pecah, tersimpan pesan tentang pelepasan, penghormatan terakhir, dan keikhlasan untuk mengantar seseorang menuju perjalanan terakhirnya.

「爱虽无声,情却长存。」 Ài suī wú shēng, qíng què cháng cún. “Kasih mungkin tak bersuara, namun cinta akan selalu tinggal.”

Oasis Lestari

Kami hadir untuk mendampingi keluarga Anda

Dengan kasih dan ketulusan, kami membantu mempersiapkan perjalanan terakhir menuju kedamaian abadi.